Jaminan Kesehatan Nasional untuk para Pensiunan.

Meski terlambat dari tayang awal 1 Januari 2014, sedikit bahas JKN bolehlah. Justru karena sudah berjalan lebih dari sebulan mudah-mudahan lebih banyak manfaatnya. Jujur sejak mendengar akan dijalankannya JKN dan diselenggarakan oleh bergabungnya ASKES, Jamsostek dan ASABRI terlintas hebat pemerintah kita. Sila ke lima Pancasila semakin dihayati dan diamalkan.
Untuk saudara-saudara kita yang barangkali selama ini masih terpinggirkan dari penjaminan kesehatan entah itu karena belum terperhatikan atau karena terpinggirkan karena jatah penjaminannya diambil alih oleh orang mampu yang pura-pura mampu atau karena gengsi yang terlalu tinggi maka bisa mendapat manfaat dari asuransi kesehatan besutan pemerintah ini.
Alhamdulillah meski di kantor belum ada migrasi ke JKN tapi di kantor istri sudah migrasi ke JKN. Selentingan dari HRD katanya covering hanya untuk istri, cause she is only a mother, bukan kepala keluarga. Btw karena suami belum terdaftar semestinya para istri yang karyawan bisa mengcover suami dan anak seperti penjelasan dr Untung. Ok, doesn't matter, dilanjut.
Nah, yang menarik adalah keluhan para pensiunan PNS yang selama ini menikmati layanan ASKES justru pada mengeluh. Terutama soal obat untuk penyakit kronis yang tidak lagi diberikan untuk tempo satu bulan. Untunglah Menkes tanggap dan segera membuat daftar penyakit kronis yang bisa mendapat obat satu bulan.
Keluhan lain adalah soal harus mulai berobat di dokter keluarga atau klinik yang merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama. Apalagi kalau diminta ke puskesmas, nah para pensiunan yang sudah terbiasa nembak rujukan ke rumah sakit tentu jadi gak nyaman. Mudah-mudahan jadi mulai terbiasa.
Secara psikologis para penderita penyakit kronis (yang sudah padha sepuh) juga mengeluh karena tidak lagi bisa bertemu para dokter langganan mereka di rumah sakit, mudah-mudahan para dokter di tingkat pertama bisa menggantikan. Tapi kayaknya susah ya?, lha klinik-klinik tingkat pertama sekarang mbludak pasiennya, gimana mau konsen hati ke hati untuk setiap pasien? Apalagi denger-denger klinik cuma dapet Rp. 8.000,- per pasien, lalu dokternya dapet berapa?
Entah ini bencana atau anugerah bagi para dokter spesialis khususnya, karena dengan layanan berjenjang di JKN jumlah pasien jadi berkurang dan hebatnya dengan diterapkannya Indonesian Case Based Groups (INA-CBG’s) terkait JKN secara tidak langsung mengurangi peluang memasang tarif tinggi. Diterima saja nggih Dok, masih ada pasien yang privat kok.
Tulisan ini diakhiri dengan doa dan harapan JKN bisa membuat solusi kesejahteraan masyarakat Indonesia, kita tunggu sampai 2019 nanti seluruh anggota masyarakat bisa tersantuni. Selamat.