Menikmati 4G Rasa BlackBerry

Menikmati 4G Rasa BlackBerry, adalah tulisan ke-4 di Suara Merdeka. Cukup lama menunggu terbit, sampai akhirnya pak Cocong Arif Priyono (kepala Desk Wacana Suara Merdeka) meminta mengurangi hingga 5000 kata namun tak mengubah makna.

Berikut salinannya:

KONEKTIVITAS berteknologi 4G akan terus dikembangkan di Jawa hingga akhir 2015. Apa sebenarnya 4G dan kenapa penulis mengaitkannya dengan BlackBerry?

Saat ini, selain memanfaatkan kemampuan 2G komunikasi suara dan SMS, kebanyakan pengguna memanfaatkan kemampuan 3G untuk mengakses internet dengan kecepatan hingga belasan Mbps, baik sekadar berkirim pesan, bersosial media maupun berselancar. Teknologi 4G pada dasarnya hanya membantu mendistribusikan data berbasis internet dengan kecepatan lebih cepat.

Kebanyakan operator 4G saat ini tidak selalu menyertakan layanan telepon berbasis circuit- switched yang selama ini kita nikmati. Bila ingin menggunakan layanan panggilan suara, salah satu teknik yang dipakai operator adalah mengalihkan ke jaringan 3G atau di bawahnya.

Pengguna 4G bisa memanfaatkan aplikasi panggilan suara berbasis internet yang disebut voice over LTE. Masalahnya, bila operator menyarankan pelanggan berkomunikasi suara menggunakan aplikasi ini (lebih dikenal sebagai over-the-top content), berarti mengubah mindset bahwa operator bukan lagi penyedia layanan telepon.

Saat ini, mayoritas dari lebih dari 9 juta pengguna internet di Jateng memanfaatkannya untuk mengakses sosial media sambil mengunduh multimedia. Bila fenomena ini berlanjut maka 4G akan membuat akses sosial media yang mengandung konten multimedia (gambar dan video) makin meningkat.

Beban Biaya

Maka paket yang ditawarkan dikemas, baik dalam bentuk video maupun tv on demand (program televisi atau film) yang dapat diunduh lebih cepat, bahkan dijual dalam bentuk paket yang bahkan belum tentu merupakan kebutuhan pelanggan. Penggunaan internet untuk voice call dan video conferencing hanya sekitar 20% pengguna saat ini.

Apakah para pengguna 4G akan beralih ke layanan ini? Seandainya mereka menyadari kemampuan 4G mestinya hal ini bakal terjadi. Sebagian pelanggan tidak menyadari bahwa kuantitas dan kecepatan data yang mampu didistribusikan 4G sebetulnya tak hanya mampu untuk voice call, tapi juga video call, bahkan video conference.

Namun mampukah pelanggan membayar biaya yang dikenakan? Contoh dari 4G yang dipaketkan sebuah operator, kita mendapat paket data 4 GB dengan biaya sekitar Rp 100 ribu. Apakah data sebesar ini cukup untuk konsumsi 1 bulan? Sebagai ilustrasi, flash disk 4 GB mampu menyimpan video full HD berdurasi sekitar 40 menit.

Kecenderungan mana yang dipilih pengguna 4G? Mereka pasti mengunduh file berukuran besar karena bisa dilakukan dengan sangat cepat.

Tapi bisakah membayangkan tagihan pulsa data 4G Anda? Jika melihat indeks harga internet di Ookla, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 62 negara yang dengan indeks harga 16,75 dolar AS yang setara dengan 9,3% GDP per orang. Negara di bawah kita adalah Filipina dan Afsel. Dibanding Singapura, harga internet kita bisa 6 kali lebih mahal yang jika disetarakan dengan GDP mereka hanya 0,089%.

Untuk menurunkan harga internet maka penetrasi harus ditingkatkan, infrastruktur tulang punggung internet (jaringan pita lebar/ fiber optik) ditingkatkan dan teknologi dikembangkan, salah satunya adalah 4G.

Berharap operator mau menurunkan harga? Jawabnya adalah pertanyaan,’’selama masih mempunyai peluang harga tinggi kenapa harus dijual murah?’’ Fenomena ini mirip awalawal BlackBerry digemari. Pada dasarnya layanan BlackBerry adalah layanan berbasis internet yang diproteksi olehnya.

Buktinya adalah kenyataan bahwa sekarang layanan bertukar pesan Blackberry sudah terbuka untuk berbagai gawai cerdas yang mempunyai koneksi internet. Layanan aplikasi BlackBerry saat ini pun terbukti sejenis dengan berbagai layanan sosial media seperti Facebook atau WhatsApp. Saat ini perangkat berbasis BlackBerry hanya punya pangsa pasar 0,5% dibanding Android 84,7%.

Proteksi BalckBerry waktu itu dibungkus strategi dagang yang memaksa pelanggannya membayar lebih tinggi ‘’nilai tambah’’yang diterima. Padahal mestinya layanan berbagi pesan bisa dilakukan oleh gawai cerdas apa pun asal mempunyai koneksi internet melalui layanan over-the-top seperti , dan sebagainya.

Jadi, apa hubungan teknologi 4G dan BlackBerry? Bila kita sebagai pengguna berteknologi 4G masih belum tergoda pada internet kapasitas besar dan cepat serta masih nyaman memanfaatkan internet berkapasitas rendah, mengapa harus memanfaatkan 4G yang hanya dimanfaatkan setara 3G? Padanannya adalah kenapa pada ‘’waktu itu” Anda membayar layanan BlackBerry yang manfaatnya bisa diperoleh dengan hanya berlangganan internet. (10)

— Dwi Eko Waluyo, dosen Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang