Wong Jateng Milih Sinten?

Keseharian mengelola Televisi Lokal menjadikan fenomena pemilihan kepala daerah serentak mau tak mau menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Dari tetamu yang telah bersedia rawuh ke TVKU di acara Potret tidak ada satupun yang punya niat kurang baik, semua berniat baik membangun Jawa Tengah dengan mengambil kesempatan menjadi Gubernur maupun Wakil Gubernur. Jadi pertanyaan dalam judul di atas jawabannya boleh siapa saja karena semuanya bertujuan baik.
Bertujuan baik saja ternyata tidak cukup, masih harus dibarengi ijin atau rekomendasi partai politik dan puncaknya dipilih oleh rakyat. Sejauh ini relatif belum ada calon yang mendapat rekomendasi dan berhak mendaftar Cagub Jateng. Baru Sudirman Said, mantan Menteri ESDM yang telah mendapatkan rekomendasi dari Gerindra, PAN dan PKS serta PPP (Jan Fariz). Rekomendasi buat pak Dirman pun belum bisa didaftarkan karena masih harus ditemukan siapa bakal calon wakil gubernurnya.
Gubernur incumbent bahkan belum bisa tahu masih bisa mencalonkan diri lagi atau tidak. Memperhatikan fenomena ini maka pertanyaan dalam judul jadi belum bisa mendapatkan jawaban.
Lha njur sinten?

Biar seru, mari berkalkulasi berdasarkan seliweran berita yang beredar di internet baik nelalui media massa yang sudah terkenal maupun media sosial. Urutan tidak menunjukkan tingkatan.
Pertama Sudirman Said, diusung pertama kali oleh Gerindra (sesuai urutan memberi rekomendasi) karena sama-sama bekas menteri Presiden Jokowi seperti Anis Baswedan (kata pak Prabowo yang untung beliau jadi bisa nyalonkan mereka jadi Gubernur). Mari berpikir dengan nalar, mereka dipecat (tanda kutip) mestinya bukan tidak cakap, tapi karena tidak lagi bersepakat, buktinya ada yang mau menampung. Artinya dari sisi kompetensi kedua pecatan menteri ini dinilai kompeten jadi Gubernur, spesifik di Jateng pak Dirman kompeten jadi Gubernur menurut partai pengusung yaitu Gerindra, PAN dan PKS. Kompetensi yang diunggulkan dari pak Dirman adalah rekam jejaknya dalam sektor pembenahan manajerial yang akan mendorong efektivitas eksekusi program-program pemerintah.
Bagaimana dengan peluang? Kalau berdasarkan survey sepertinya Gubernur Ganjar Pranowo masih di atas angin, cuma kalau bicara peluang dalam statistik tidak selalu juga yang punya probabilitas tertinggi yang keluar, begitupun dalam pilkada. Apalagi sampai hari ini belum ada pernyataan resmi pak Ganjar dicalonkan kembali, maka sebenarnya belum ada peluang yang dipunyai dan peluang bagi P Dirman bisa saja membesar.
Bagi p Dirman peluangnya bisa menjadi semakin besar bila berpasangan dengan calon yang mampu menggerus suara dari kelompok yang fanatik dari partai PDIP. Apakah ada? Itu sangat mungkin, silahkan mengingat fenomena tokoh PDIP menjadi Cawagub Jateng melalui partai lain 5 tahun lalu, bahkan cagubnya pun sebelumnya mendaftar melalui PDIP.
Kalkulasi berikutnya terpaksa membahasnya bukan orang tapi calon dari PDIP. Bisa Ganjar Pranowo, Mustofa, Wardoyo, Sunarna dan Lestariyono? Dari sisi kompetensi kelimanya mestinya kompeten. Satu incumbent, tiga lainnya bupati aktif dan satunya lagi kepala desa. Siapapun yang dipilih pasti akan dipandang kompeten, walau belum tentu paling kompeten karena pilihan partai tentu bukan selalu yang paling kompeten tapi banyak faktor lain.
Seperti diulas di atas incumbent sebenarnya punya peluang banyak, bahkan PPP Rommy sudah berangan ikut meminang jika PDIP mencalonkannya. Masalahnya PDIP memang belum menentukan pilihan, meski sekjen sering menyiratkan tetap mengusung incumbent namun beberapa juga masih membuka peluang bagi yang lain, bahkan mungkin saja bukan dari yang sudah mendaftar.
Bagaimana kalau bukan incumbent pilihan PDIP? Maka peluang masing-masing menjadi sangat cair.
Kandidat berikutnya adalah dari partai tersisa, sepertinya dari sosok figur bukan tidak ada yang berkompeten karena ada nama Jendral Gatot Nurmantyo dan Komjen Budi Waseso. Namun karena koalisinya belum jelas, sementara kita lupakan saja dulu calon dari koalisi partai lainnya.
Calon wakil gubernur bagi Sudirman Said yang paling santer disebut adalah Rustriningsih dan Gus Yusuf. Seperti disinggung di atas, yang punya peluang untuk mendulang suara fanatik PDIP tentunya mempunyai nilai tambah yang sangat berarti. Calon yang memiliki basis massa namun tidak terlalu berafiliasi ke PDIP maka tanpa direkatkan pun akan bisa mendekat secara alami.
Calon wagub bagi Ganjar Pranowo sangat fleksibel, karena faktor pak Ganjar yang sudah dominan. P Ganjar bisa saja tetap dengan p Heru Sujatmoko ataupun dengan lainnya. Sementara jika calon lain yang dipilih oleh PDIP maka siapapun bisa berpeluang sama.
Jadi bagaimana hasil kalkulasinya? Sudah bisa memilih? Sedikit memaparkan hasil kuantitatif pembahasan di internet menggunakan brand24.com, ternyata dalam 30 hari belakang ini pak Dirman lebih banyak dibicarakan daripada pak Ganjar. Meskipun begitu ini jelas bukan patokan untuk memilih. Jadi monggo dipun pigatosaken.