#BukanUrusanSaya Mendunia (Maya)

Tulisan berikut adalah naskah asli yang sudah dimuat di Halaman Wacana Suara Merdeka tanggal 7 Januari 2015) Mudah-mudahan bermanfaat dan selalu dalam lindungan-Nya.
Sebuah trending topic (TT) di Twitter selalu ada setiap hari, tapi kalau itu menyangkut tokoh spesial apalagi Presiden maka bisa jadi semakin heboh (di dunia maya). Sebuah hashtag (tanda # disingkat tagar, yang menandai topik) juga bisa lebih heboh karena lamanya bertengger di trending topic. TT bisa untuk seluruh dunia, negara maupun lokasi tertentu. Saat tulisan ini disusun #BukanUrusanSaya menjadi TT di Indonesia hingga hari keenam (walau di urutan 5, dan saat anda baca sekarang, saya yakin sudah tidak lagi TT), sehingga judul di atas harus dimaknai mengIndonesia di dunia maya.

Sebelum ini juga ada TT terkait Presiden Indonesia #ShameOnYouSBY yang saat menghilang dari TT dalam dua hari justru jadi kehebohan di dunia maya. Banyak netizen (sebutan untuk warga di dunia maya/internet) menuding Presiden waktu itu mengintervensi Twitter untuk menghilangkan TT tersebut. Tanpa dijawab tuduhan itu hilang sendiri karena muncul TT baru sejenis yaitu #ShameByYou lalu berganti #ShameByYouAgainSBY.
Penjelasan dalam laman Twitter sebuah TT bisa terjadi jika tagar menjadi sangat populer. Menjadi sangat populer dimaknai sebagai tadinya kurang populer menjadi sangat populer dalam kurun waktu tertentu (tidak dijelaskan kurun waktunya), bermakna juga yang sudah tidak populer harus menjadi lebih populer lagi untuk bisa menjadi TT. Bertahan dua hari menjadi TT bermakna pada hari pertama menjadi sangat populer dan hari berikutnya melonjak lagi kepopulerannya. Jika lebih dua hari jadi TT, maka bisa dipastikan sering terjadi lonjakan popularitas dalam kurun waktu tersebut.
Tulisan ini tidak akan membahas mengapa netizen membuat #BukanUrusanSaya menjadi TT. Karena mereka pasti punya alasan sendiri, seperti halnya saat mereka membuat #ShameOnYouSBY. Kata membuat seolah tendensius dan menuduh, tapi kata itu pantas dikenakan. Secara sadar atau tidak sadar menuliskan tagar sama dalam setiap kicauan di Twitter dari sekelompok orang dengan ketertarikan topik dan dalam kurun waktu sama akan membawa tagar menjadi TT.
Tulisan ini akan membahas dari sisi pemilihan kata dalam tagar dan kenapa netizen bersedia larut dalam kehebohan sebuah TT. Pemilihan kata dalam tagar pasti merujuk suatu topik tertentu. Karena kata dalam tagar memang menunjukkan hal “penting” apa yang ingin disampaikan oleh Tweeter (penyampai pesan di Twitter). Kalau topik yang disampaikan memerlukan lebih dari dua kata maka kata-kata itu lalu disambung. Tagar seperti dalam judul di atas menggunakan tiga suku kata yaitu Bukan, Urusan dan Saya. Perlu diingat susunan kata tetap mempengaruhi arti sehingga harus diperhatikan.
Meski penulisannya tidak mengikuti tata bahasa yang benar, otak para Twead (pembaca, yang adalah kita juga) sudah canggih memaknai kata dalam tagar. Jangankan hanya menggabungkan kata, susunan huruf dalam kata yang “ora nggenah” saja bisa dimengerti. Saya ambilkan contoh dari salah satu teman facebook (harjanto.halim.5) yang memberikan untaian kata berikut, “BPAAK GRUU SDAENG PREGI KE SKELOAH” tidak perlu saya beri kata yang benar saya sangat berharap pembaca mengerti makna kalimat “ora nggenah” tersebut. Jika mengerti maka kita sepantasnya memuji otak kita dengan kata “RUAL SIABA”. Walau susunan kata tidak tersusun dengan benar seperti lazimnya kata, namun otak kita mampu memaknainya. Jangan lupa bersyukur kepada-Nya, karena menciptakan kita dengan kemampuan yang luar biasa ini.
Kembali ke pemilihan kata dalam tagar, topik pasti ingin ditonjolkan oleh para Tweeter. Dalam sebuah Tweet (pesan dalam Twitter) kata dibatasi hanya 140 huruf termasuk spasi. Jika tagar menghabiskan 16 huruf maka hanya tersisa 104 huruf. Pengorbanan untuk tagar harus sangat bermakna, dan memang itulah gunanya tagar yaitu memberi makna lebih.
Beberapa tagar dinyatakan dalam bentuk singkatan yang sangat familiar di dunia maya. Contoh yang diberikan Twitter ada tagar #FF yang dikenal sebagai “Follow Friday”, tradisi mingguan di mana pengguna mengusulkan orang yang harus diikuti pengguna lainnya di Twitter. Tagar ini banyak dijumpai setiap hari Jumat. Singkatan lain mungkin bisa anda temukan untuk #Omg, #Cmiww, #Wyatb, #Hbd dan sebagainya.
Tagar #BukanUrusanSaya dipakai oleh para Tweeter dipicu oleh pemberitaan beberapa media yang mengutip pernyataan Presiden bahwa penanganan demonstrasi anti kenaikan harga BBM (di Makasar ada demonstran yang meninggal) sudah diurusi kepolisian. Meskipun begitu ternyata ada media yang menyitir menggunakan bahasa yang lebih mudah dengan “bukan urusan saya”. Pemakaian kata-kata terakhir ternyata memberi inspirasi beberapa Tweeter untuk dipilih menjadi tagar tersebut. Disengaja atau tidak ternyata tagar ini menjadi TT hingga 6 hari.
Mengapa netizen bersedia larut dalam kehebohan TT? Jawabnya adalah ketertarikan akan topik dalam tagar. Saat ini #MTVStar masih menjadi TT di Twitter, hal ini dipicu oleh MTV yang sedang mengkampanyekan pemilihan MTV Star dan para penggemarnya sangat intens dengan topik ini. Ada beberapa perbedaan dengan tagar #BukanUrusanSaya dibanding #MTVStar walaupun sama-sama TT yaitu dari sisi persepsi publik dan dari sisi pemberitaan lanjutan di media.
#MTVStar mempunyai persepsi publik positif sebaliknya dengan #BukanUrusanSaya. #MTVStar adalah sebuah kampanye positif tentang artis idola dari bintang-bintang yang bertaburan di MTV (jejaring TV hiburan). Para penggemarnya saling berlomba mendukung para bintang idola dengan memberikan pilihan melalui tweet sebanyak-banyaknya dengan tagar yang telah ditentukan. #BukanUrusanSaya sebaliknya adalah sebuah ungkapan sentimen negatif dari (barangkali) orang-orang yang bukan pendukung capres yang kini jadi presiden. Tweeter tagar ini tidak selalu sedang berkicau yang relevan dengan topik, bahkan membicarakan ulang tahun yang semestinya memakai #Hbd tetapi justru #BukanUrusanSaya. Meskipun begitu bisa diamati kasat mata hampir semua bernada negatif.
Dari sisi pemberitaan lanjutan di media #MTVStar cenderung sepi, hanya di media partner ajang kampanye tersebut bisa kita temukan. Isi pemberitaan pun bukan tentang TT tetapi tentang content pencarian ajang bintang MTV. Sebaliknya #BukanUrusanSaya justru banyak dilansir di media, terutama media online, bukan hanya tentang content tetapi juga keberhasilannya menjadi TT di Twitter. Belum lagi di media sosial selain Twitter, orang sibuk membicarakannya. Ada yang mengipasi ada juga yang menepis.
Apakah kehebohan TT bisa dikendalikan? Bisa ya bisa tidak. TT #MTVStar jelas karena disengaja (by design) dan netizen diarahkan untuk menggairahkanya. TT #BukanUrusanSaya bisa dipastikan bukan karena disengaja (by accident, trial and error) dan netizen tergerak (jika tidak boleh menggunakan kata terprovokasi) untuk menjadikannya heboh.
Kapan kehebohan TT berhenti? Waktu yang akan menghentikanya. TT by design akan berhenti saat programnya dihentikan. TT by accident akan berhenti bila sentimen (positif maupun negatif) meredup. Mari sikapi TT dengan bijak, mudah-mudahan kita terhindarkan dari kecelakaan trending topic bersentimen negatif. #BerpikirPositif #Mikir.