Boleh (Nggak) Bangga Bersekolah di Sekolah Favorit?

Menuliskan tentang hal ini sebetulnya sangatlah berat. Cuma jadi terusik saat pejabat tinggi yang baru lulus ujian persamaan SMA dibanggakan koleganya (bukan yang bersangkutan ya...) sebetulnya pernah mengenyam pendidikan SMA (Favorit). Jadi sebenarnya sekolah favorit itu membanggakan nggak sih? Atau tepatnya bersekolah di sekolah favorit berkorelasi dengan kompetensi nggak sih? Sekalian menyambut hari pertama masuk sekolah, mari kita bicara tentang sekolah favorit.
Ciri-ciri sekolah (atau lembaga pendidikan) favorit adalah peminatnya berjubel. Akan benar-benar favorit kalau persaingan masuknya paling sulit. Masalahnya ternyata persaingan sulit bisa menjadi tidak sulit bagi sebagian orang.
Buat orang tertentu, masuk Smp dan Sma favorit bahkan hingga perguruan tinggi ternama bukanlah hal sulit (mudah-mudahan mereka dijauhkan dari ujub). Yang pasti itu adalah takdir, jadi mengalir saja, ya mudah saja melampaui seleksinya.
"Ah bohong itu...", jika anda tidak percaya boleh tanya ke sebagian dari mereka. Saya percaya anda mudah menemukannya di setiap teman angkatan sekolah anda. Ciri-ciri mereka adalah kalau sekolah kurang memperhatikan guru, suka asyik sendiri dengan dirinya (tertidur di kelas, atau banyak ngobrol / mengganggu temannya) cuma kalau diminta maju oleh guru untuk selesaikan soal akan dengan cepat dikerjakan dan hasilnya benar! Pancen ora umum bocah sing ngene iki...
Cuma fenomena ini tidak akan dijumpai saat ini. Sistem penerimaan peserta didik baru di sekolah diseragamkan, dibuat sistem zonasi. Anak yang bertempat tinggal (tepatnya memiliki kartu keluarga) satu zonasi dengan sekolah diberi selisih nilai 10 dengan yang luar zonasi, sehingga akan sulit dikejar. Hal ini baru akan jadi mudah bila si calon adalah anak guru atau mempunyai prestasi internasional/nasional (yang untuk memperolehnya perlu etos sangat berat) atau si calon adalah anak miskin!
Ya... Miskin ternyata bisa dijadikan senjata untuk masuk ke sekolah (yang dulu pernah) favorit. Dulu anak-anak yang mudah melenggang di seleksi sekolah favorit banyak juga dari anak miskin, tapi mereka melenggang bukan karena miskin tapi karena memang menang bersaing. Jadi jangan harap lagi akan ada sekolah favorit? He he...
Kalau tujuannya adalah pemerataan maka bisa jadi akan berhasil programnya, cuma kalau tidak ada sekolah favorit masih sulit berkomentar. Memang ada pepatah bahwa emas tetap akan mengkilap walau berada di timbunan lumpur, masalahnya emas ini akan jauh lebih cepat mengkilap kalau dikelola di penambangan emas tidak di penambangan lumpur, bukan begitu?
Terkait pemerataan sebaiknya pengambil kebijakan berpikir di hulu akan lebih tepat yaitu dengan memeratakan fasilitas, pelayanan dan pengelolaan sekolah. Model pemerataan kualitas sekolah akan menghasilkan luaran dengan kualitas cukup merata walau tidak akan mungkin memberantas sekolah favorit. Secara alami memang akan selalu muncul hal-hal berbeda yang salah satunya memunculkan fenomena favorit. Jadi masih mau menentang kehendak alam? Wallahu a'lam bish-shawabi.