Hore!!! Menang di Sosmed

Akhir-akhir ini banyak beredar info berkebalikan antara pooling di dunia maya dan pooling (tepatnya survey) di dunia nyata. Menang di dunia maya ternyata gak menang di dunia nyata. Sampai-sampai muncul pemikiran ini memang strategi bagi satu pihak untuk melemahkan (tepatnya melenakan) bagi pihak yang menang di salah satu dunia. Terus bagaimana sebenarnya?
Merujuk pilgub Jateng 2018 petahana relatif sangat populer di dunia maya dan tentu saja menang dengan telak saat dilakukan pooling. Dunia nyata survey juga menang telak walau kenyataannya hasil survey ternyata tidak telak. Jadi ternyata pooling (bahkan survey) tidak valid memberikan gambaran kenyataan. Merunut berbagai pooling dan survey pilgub lain, banyak pula yang sejenis. Bahkan pilgub DKI hasilnya berbeda dengan pooling dan survey. Sampai ada yang bilang survey saat ini hanyalah penggiringan opini saja.
Jadi? Bagaimana penjelasan judul kita kali ini? Ya, menang di sosial media sebetulnya memang benar menang di dunia maya. Kemenangan pooling di sosial media tidak bisa dijustifikasi untuk populasi di dunia nyata karena memang beda populasi. Populasi dunia maya di Indonesia saat ini masih berkisar 60-70 persen jika merujuk pengguna internet, dari jumlah itu masih banyak yang belum punya hak pilih (di bawah 17 tahun atau belum menikah). Pengguna internet yang punya hak pilih tidak semua bergabung dengan sosial media. Pengguna sosial media tidak semua aktif mengikuti pooling bahkan berpartisipasi aktif (berceloteh) sekalipun. Jadi menang di sosial media bukanlah ukuran menang di dunia nyata, maka bagi yang menang tetaplah berusaha menang di dunia nyata.
Btw pooling di hati nurani dengan memperhatikan fenomena percakapan di dunia maya sebetulnya bisa dipakai untuk prediksi. Selama akal sehat manusia Indonesia masih seperti masa pemilu yang lalu, maka arah angin kemenangan sepertinya memang berpihak ke yang menang di dunia maya.
Ada syaratnya lho ya... Masih punya akal sehat?